Bulan bersinar terang dan kelihatan besar, mungkin sedang fasenya bulan purnama kali ya.
Bintangpun bertaburan di atap langit dengan indahnya. Seakan menemani
Difa membuat gantungan HP, pekerjaan yang ditekuninya sejak
umur 13 tahun. Begitu indah, membuat gantungan HP di temani bulan dan
bintang - bintang cantik. Mengobarkan semangat Difa untuk berkarya.
“Al - hamdulillah, sudah kelar. Semoga teman-teman suka dengan gantungan HP buatanku.”
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam tepat, saatnya
Difa istirahat, melepas lelah. Sambil terbaring di keranjangnya, Difa tak
henti - hentinya tersenyum sambil memandangi dagangannya yang terlihat
begitu menarik. Gantungan HP dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang
berbentuk bulan sabit, bintang, huruf, angka, buah dan lain-lain.
Rasanya memang puas kalau sebuah pekerjaan sudah kelar dan hasilnya bagus. Seperti halnya juga Difa, saking bahagianya, saking
puasnya sampai terbawa ke alam mimpi. Dalam mimpinya, Difa mendapat
tawaran dari sebuah toko aksessoris. Pemilik toko itu tertarik dengan
gantungan kunci buatan Difa dan berminat untuk menjual di tokonya.
“Yes… yes… yes… yes…”
“Difa…difa… bangun, kamu mimpi ya?” Bunda Difa membelai rambut Dita lembut.
“Rrrghh, astaghfirullohal ‘adzim ternyata Difa cuma mimpi” Difa terbangun.
“Memangnya kamu mimpi apa nak?”
Difa menceritakan mimpi baiknya secara detail, tanpa ada satupun yang
ketinggalan. Bundanya hanya tersenyum dan berharap dagangan Difa
semuanya laku dengan baik. Syukur-syukur bisa seperti mimpinya, dapat
tawaran dari pemilik toko aksesoris. Amin.
Adzan subuh mengalun syahdu dari surau-surau, seakan
menggerakkan kaki Difa mengambil air wudlu. Difa menyanyi seperti yang
di lakukanya setiap pagi.
Dengarlah adzan berkumandang
Tanda waktu sholat telah dating
Sholat berjamaah mari kita kerjakan
Marilah menuju kemenangan
Sholat fardlu yang lima waktu
Kerjakan selalu janganlah ragu
Sholat dapat mencegah keji dan kemungkaran
Penolong bagi orang beriman
Sucikan hati sucikan diri
Hanya mengharap Ilahi Robbi
Berserah diri sepenuh hati
Hanya mengharap Ridho Ilahi
Lagu itu Difa dapat dari guru ngajinya saat masih ngaji di TPQ dulu.
Sekarang Difa tidak ngaji di TPQ lagi karena hampir setiap hari
pulangnya sore. Lagu itu adalah salah satu lagu faforitnya, setiap hari
ia menyanyikan lagu itu dengan tarian khasnya Dan biasanya akan
berhenti menyanyi dan menari setelah sampai di kamar mandi. Adapnya
dikamar mandi kan nggak boleh bersuara sebenarnya. Setelah
wudlu, wajah Difa terlihat segar dan cantik. Tidak lupa, usai wudlu
memanjatkan doa sambil menengadah ke langit. Semua itu sudah reflek bagi
Dita.
Bagi perempuan, sholat itu yang utama khan di rumah karena kalau di surau khan
takut aurotnya kelihatan oleh orang yang bukan mahromnya. Jadi Difa
sholat berjamaah saja dengan bundanya. Ayah dan kakaknya sholat di
surau.
Untuk mengawali aktifitasnya, Difa selalu lari-lari bersama Fina,
teman dekatnya. Selain tetanggaan, Fina juga sekelas dengan Difa, jadi
mereka seperti perangko gitu. Dimana-mana nempel terus. hehe. udara
pagi ini begitu segar dan menyejukkan, kabutpun menyelimuti udara di
pagi ini. Hamparan sawah yang hijau menambah indah suasana pagi.
“Fina, duduk disitu dulu yuk. Sambil nuggu matahari terbit” ujar Difa.
“Matahari kok di tunggu, hehe. yoook”
Seperti layaknya remaja zaman sekarang, Difa dan Dita mengabadikan moment itu dengan berfoto-foto.
“Fin, ntar di upload yah?” pinta Dita
“Eh, enggak ah”
“Eeeeh, Fina”
“Iya-iya, untuk Difa apa sih yang enggak. Hmm. Fa”
“Apa?”
“Buat puisi dong. Ntar biar banyak yang ngoment foto kita gitu. Kamu kan jago bikin puisi.”
Hmm, oke. Bener juga”
Kemanapun Difa pergi, ia selalu membawa barang berharganya. Tau nggak
barang berharganya apa?? Pena dan buku catatan, hehe. Finapun juga
punya barang berharga, yaitu camera digital. Fina memang suka
motret-motret. Biasanya hasil pemotretan Fina dan Puisi Dita selalu di
upload di facebook. Daaaan komenrtarnya nggak ke tolong banyaknya. Gantungan HP buatan Difa pun juga jadi objek pemotretan Fina lo. Yah, sekalian promosi di facebook gitu. Kan lumayan kalau banyak yang beli. Bisa bantu ortu biayain sekolah.
“Difa… gantungan HP mu mana?” sergap teman-teman Difa sewaktu sampai gerbang sekolah.
“Sebentar-sebentar, aku parkir sepeda dulu ya. Gantungan HP
nya ada kok, di tas. Sudah aku buatin banyak banget khusus buat kalian
semua.”
Seperti artis saja, teman-temannya mengikuti Difa dari belakang. Di depan kantin, biasanya Difa menggelar daganganya.
“ Fa, kok bagus – bagus banget sih. Jadi pengen aku beli semuanya “ Ujar Rinda bingung memilih mana yang menurutnya cantik.
“ Iya, dengan senang hati. Gak papa dibeli semuanya heheh….”
“Eh….nggak bisa. Kalau semuanya dibeli Rinda aku gimana? Gak bisa…gak bisa…” protes teman - teman yang lain.
Difa senang sekali, teman - temannya pada suka dengan buah tangannya dan Alhamdulillah
sudah hampir habis. Tinggal 5 biji saja yang tersisa. Yang 2 biji
pesanan bu guru dan yang 3 biji akan Difa tawarkan ke teman - temannya
di kelas. Semoga saja laku semuanya. Daaaan ternyata benar, kelima limanya dibeli sama bu guru.
“ Difa, besok lusa ada lomba membuat lampu hias dari galon ukuran
kecil. Ini lomba sekota lo. Kamu mau ikut? Untuk mewakili sekolah.” Bu
Rini menawarkan.
Waw… boleh juga tuh. Kebetulan Difa sudah belajar mengolah barang -barang bekas. Siip semoga aja Difa jadi juara.
“ Iya bu saya mau”
“ Ya sudah, persiapkan dirimu. Kamu mencoba membuat ya dirumah”
“ Siap bu”
Sepertinya di rumah Fina banyak galon kecil yang nggak terpakai. Difa
tau waktu Fina mengajaknya ke gudang mencari fotonya Fina waktu TK
beberapa hari yang lalu. Kali aja galon - galon kecil itu boleh
diminta. Untuk bahan hiasanya, yaa nggak apa - apa lah sedikit berusaha
untuk membeli gitu.
“ Fin, kamu punya galon kecil bekas nggak?” Tanya Difa pada Fina seusai pulang sekolah dirumah Fina.
“ Kayaknya ada digudang! Emangnya kenapa?
“ Boleh aku minta?”
“ Boleh aja, yuuk… ikut aku ke gudang!”
Sambil berjalan, Fina bertanya sebenarnya untuk apa galon kecil bekas
itu. Difa menjelaskan padanya tentang lomba itu dan tentang Difa yang
ingin mencoba membuatnya dirumah. Fina senang, malahan Fina
berniat untuk membantu Difa. Difa memberikan hadiah terindahnya. Apa
itu? yaitu senyum termanis. Hehe. Beruntung sekali Difa mempunyai
sahabat seperti Fina.
“ Fa, gimana kalau buatnya disini aja” tawar Fina
“barang – barang untuk menghiasinya gimana?”
“ Emang apa aja sih?”
“ Yaa seperti sendok plastic bekas ukuran besar, sedotan, kayak gitulah”
“ Aku punya”
“Beneran?”
“ He eh, nih!”
“ Beneran ini boleh dipakai? Kan masih bagus!”
“ Gak apa - apa lagi. Kan kebutuhan sekolah”
Difa dan Fina pun mulai membuatnya. Fina yang memegang galonnya dan
Difa yang menghiasinya. Rapi sekali cara Difa menghiasinya dan kelihatan
cantik sekali. Apalagi kalau lampunya dinyalakan terlihat bersinar,
berwarna gitu. Padahal lampunya hanya lampu putih biasa, namun kalau dinyalakan bisa menjadi merah karena hiasan sedotan itu.
“ Fa, bagus. Beneran deh, bagus”
“ kamu pasang di kamarmu aja, pasti lebih cantik deh nantinya kamarmu”
“ Hmm… iya juga sih. Tapi kalau untuk belajar kayaknya kurang terang deh”
“ Ehm. Ya jangan untuk belajar. Namanya juga lampu hias, bukan lampu belajar”
“ He he he “
Di pasangnya lampu hias itu dikamar Fina, wah beneran tambah
cantik kamarnya Fina. Lebih berwarna gitu. Setelah itu mereka belajar
bersama. Mengerjakan tugas biologi dari bu Tias yang seabrek itu. LKS harus dikerjakan semua dan besok sudah harus selesai dan dicocokkan. Yaa maklumlah, sebentar lagi kan semesteran. Jadi yaa banyak tugas gitu. Tapi Difa dan Fina sama sekali nggak keberatan, malah have fun banget tuh. Karena yaaaa kan dikerjakan bareng - bareng.
Paginya, untuk melepas kejenuhan sekaligus berolahraga Difa mengajak Fina sepedahan. Yaa kan tseiap hari lari - lari mulu kan yaa jenuh. Hehe. Sekarang diganti dengan sepedahan aja, ganti suasana gitu.
“Fa, kamu sudah siap untuk lombanya?”
“InsyaAllah siap. Doain ya”
“Pasti”
Lomba yang seharusnya di laksanakan besok, di percepat hari ini. Bu
Rini memberitahukan Difa waktu Difa menggelar dagangannya di depan
kantin pagi ini. Difa sempet kaget sih, tapi al-hamdulillah Difa kan kemarin sudah persiapan.
“Difa, ayo berangkat”
“Kemana bu?”
“Ya ketempat lomba”
“Sekarang ta bu?”
“Iya, sekarang. Kamu belum siap?”
“Hmm, sudah kok bu”
“Yaudah yuuk, keburu telat nanti.”
Bahan-bahan pembuatan lampu hias di sediakan panitia. Peserta tinggal
merangkainya saja. Dan tanpa Difa duga, ada anak dari sekolah lain yang
menirukan kreasi Difa.
“Fa, kok ada yang buatnya mirip punya kamu sih”
“Oia, mana?”
“Itu yang di pojok”
“ Iya bener banget, mirip. Malah bisa jadi persis tuh.
Kalau aku juga tetap bikin kayak gitu, ntar juri menghira aku yang
menjiplak.”
“Ya, berarti harus ganti kreasi”
“Iya, yaudah aku ganti deh”
Kok bisa samaan gitu ya. Sepertinya anak itu tidak ingin Difa menang. Dengan memeras otak, Difa mengubah kreasinya agar tetap unik dan nggak ada yang nyamain.
“Nanti gimananya? Ada sedikit keraguan di hati Difa.
“ Udah, tenang aja. Punya kamu tadi bagus kok. Nggak kalah
dengan punya anak yang jiplak kreasi pertama kamu tadi. Untuk nenangin
hati kamu, kita sholat di mushola sebelah yuuk.”
Sambil menunggu pengumuman, Difa sholat di mushola di temanin Fina.
Dan memanjatkan doa supaya hasilnya memuaskan. Setelah sholatpun Difa tak berhenti membaca sholawat.
“Pengumuman hasil kreasi galon untuk lampu hias segera dimulai. Di mohon para peserta agar berada di dalam ruangan.”
Suara salah seorang juri begitu menggema.
Dengan tetap membaca sholawat, Difa mendengarkan kata demi kata dari
dewan juri. Di mulai dari juara ketiga bukan nama Difa yang di panggil.
Juara dua juga bukan nama Difa. Juara satupun ternyata juga bukan Difa.
Melainkan seorang anak yang menjiplak kreasi Difa itu. Tak terasa, air
mata Difa menetes di pipi mungilnya.
“Difa, Laa tahzan. Kegagalan adalah paket dari
sebuah kesuksesan. Jadikan ini sebuah pelajaran untuk maju. Aku selalu
mendukungmu Fa.” Ucap Fina menenangkan.
“Iya, mungkin memang belum saatnya aja untuk aku jadi juara.” Difa berusaha tegar.
“Mohon maaf, ada satu buah karya yang menakjubkan. Karya
pertamana di jiplak oleh peserta lain. Dan peserta itu mengubah
kreasinya agar tidak sama dengan peserta lain itu. Sungguh luar biasa.
Dia adalah Difa Rukmana.”
Terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari semua penjuru. Difa kembali terisak karena terharu, bahagia bercampur jadi satu.